Detail Knowledge

Kelitbangan-Knowledge
By: Smartlitbang 2021-08-05 06:06:00

Masih Bingung Menemukan Ide Penelitian? Ini Tipsnya!

blog image

Ketika saya duduk di bangku sekolah, ada teman saya yang ‘mengemis’, minta ide penelitian ke saya:

“Mbak wi, minta idenya dong, buat penelitian adik kelas....”

 Saya menolak dan menegaskan seraya berkata: “Memangnya nyari ide itu gampang? Nyari ide itu sekarang susah. Makanya cari sendiri dong!”

 Sebagai mantan anak KIR, saya merasa ingin berbagi ilmu untuk semua orang, terutama pelajar dan mahasiswa yang saat ini berkutat dengan penelitian. Bahkan, mungkin adik kelas yang anggota KIR merasa perlu untuk mencari info sambil bertanya tentang mencari ide penelitian. Sebagai alumni yang pernah menjadi anggota KIR, yang tentunya pernah berkutat dalam penelitian dan menulis, tentunya saya ingin membantu adik kelas saya dan semua orang yang ingin membutuhkan tips tersebut, walaupun hanya sebatas artikel sederhana ini.

Menemukan ide untuk penelitian dan pengembangan teknologi itu tidak mudah, seperti yang saya katakan di atas. Makanya dalam karya teknologi itu ada hak cipta kekayaan intelektual, agar hasil jerih payah selama berpikir itu dihargai dan dilindungi. Tahu ‘kan Software buatan Microsoft, yang saat ini kita gunakan? Itu adalah hasil berpikir dari orang-orang jenius. Dan pengembangan software tersebut itu membutuhkan waktu yang lama, menggunakan ide dan kreativitasnya.

 Untuk menemukan ide penelitian itu, butuh kreativitas dan daya berpikir yang kritis. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini menyangkut orisinalitas dari karya ilmiah tersebut. Sekali ditemukan ide dan membuat hasil karya yang ternyata sudah diteliti orang lain pun sudah termasuk pada plagiat. Tak heran, bagi yang sudah berhasil menemukan ide terbaiknya yang kemudian dikembangkan menjadi karya penelitiannya, akan diganjar dengan juara dan piagam penghargaan, tentunya.

 Karena proses berpikir yang tidak mudah inilah, yang menyebabkan mengapa saya menolak untuk memberikan ide kepada teman saya. Alasannya, karena ide penelitian tersebut termasuk bagian dari buah pikir dan kekayaan intelektual manusia, yang perlu dilindungi, seperti yang saya katakan tadi. Sama dengan batik, keris, dan buah karya kebudayaan Indonesia lainnya, yang murni terlahir dari nenek moyang bangsa. Jika saya memberikan ide penelitian karya ilmiah tersebut, saya menganggap itu telah menjiplak buah karya orang lain, yang suatu saat nanti akan dituntut oleh siapa orang yang pertama kali menemukan ide tersebut. Bahkan, waktu pendaftaran hak cipta, urusan tersebut akan berbuntut panjang.

 Selain itu, saya ingin teman saya dan adik kelas saya untuk berpikir kritis dalam menemukan ide. Karena zaman sekarang, orang Indonesia menyukai hal-hal yang praktis, serba instan. Tidak mau berpikir dan langsung jadi. Padahal dalam penelitian, tidak ada istilahnya penelitian itu butuh waktu cepat. Semua penelitian butuh waktu panjang. Bahkan, skripsi sampai waktu berbulan-bulan. Semakin tinggi jenjangnya di perguruan tinggi, untuk lulus pun diperlukan waktu yang lebih lama.

 Masih ingatkah dengan Thomas Alfa Edison? Beliau baru berhasil menemukan lampu setelah melewati 1000 percobaan yang berujung pada kegagalan. Ternyata, kegagalan tersebut justru membuat Edison berkerja keras untuk menyempurnakan penelitiannya. Berkat ketekunannya, lampu, yang sekarang ini terdiri dari beberapa jenis, saat ini sudah bisa kita gunakan di mana-mana. Sekali lagi, penelitian tersebut, butuh waktu lama!

 Nah, bagi teman-teman, terutama para anggota KIR, termasuk adik-adik kelas saya yang masih ingin ‘mengemis’ minta ide, tinggalkanlah! Saya akan mengajak kalian untuk memberikan tipsnya: “Bagaimana sih cara menemukan ide dalam penelitian karya ilmiah?”

Pertama: Dalam menemukan ide dalam penelitian, hendaknya Anda mempelajari pengetahuan dan teori terhadap apa yang diteliti. Misal, saya meneliti tentang jamur. Ternyata, beberapa jenis jamur mengandung racun yang mematikan. Racun tersebut bisa meracuni manusia, hingga menyebabkan kematian.
 Nah, untuk penelitian yang menggunakan bahan tumbuhan maupun hewan, itu mudah. Lain halnya dengan penelitian yang berbau teknologi, ternyata harus dipelajari teorinya secara mendalam, sedetil-detilnya. Karena, kesalahan dalam penelitian teknologi, bisa berpengaruh pada produk yang dihasilkan, lho!

Menemukan ide untuk penelitian dan pengembangan teknologi itu tidak mudah, seperti yang saya katakan di atas. Makanya dalam karya teknologi itu ada hak cipta kekayaan intelektual, agar hasil jerih payah selama berpikir itu dihargai dan dilindungi. Tahu ‘kan Software buatan Microsoft, yang saat ini kita gunakan? Itu adalah hasil berpikir dari orang-orang jenius. Dan pengembangan software tersebut itu membutuhkan waktu yang lama, menggunakan ide dan kreativitasnya.

 Untuk menemukan ide penelitian itu, butuh kreativitas dan daya berpikir yang kritis. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini menyangkut orisinalitas dari karya ilmiah tersebut. Sekali ditemukan ide dan membuat hasil karya yang ternyata sudah diteliti orang lain pun sudah termasuk pada plagiat. Tak heran, bagi yang sudah berhasil menemukan ide terbaiknya yang kemudian dikembangkan menjadi karya penelitiannya, akan diganjar dengan juara dan piagam penghargaan, tentunya.

 Karena proses berpikir yang tidak mudah inilah, yang menyebabkan mengapa saya menolak untuk memberikan ide kepada teman saya. Alasannya, karena ide penelitian tersebut termasuk bagian dari buah pikir dan kekayaan intelektual manusia, yang perlu dilindungi, seperti yang saya katakan tadi. Sama dengan batik, keris, dan buah karya kebudayaan Indonesia lainnya, yang murni terlahir dari nenek moyang bangsa. Jika saya memberikan ide penelitian karya ilmiah tersebut, saya menganggap itu telah menjiplak buah karya orang lain, yang suatu saat nanti akan dituntut oleh siapa orang yang pertama kali menemukan ide tersebut. Bahkan, waktu pendaftaran hak cipta, urusan tersebut akan berbuntut panjang.

 Selain itu, saya ingin teman saya dan adik kelas saya untuk berpikir kritis dalam menemukan ide. Karena zaman sekarang, orang Indonesia menyukai hal-hal yang praktis, serba instan. Tidak mau berpikir dan langsung jadi. Padahal dalam penelitian, tidak ada istilahnya penelitian itu butuh waktu cepat. Semua penelitian butuh waktu panjang. Bahkan, skripsi sampai waktu berbulan-bulan. Semakin tinggi jenjangnya di perguruan tinggi, untuk lulus pun diperlukan waktu yang lebih lama.

 Masih ingatkah dengan Thomas Alfa Edison? Beliau baru berhasil menemukan lampu setelah melewati 1000 percobaan yang berujung pada kegagalan. Ternyata, kegagalan tersebut justru membuat Edison berkerja keras untuk menyempurnakan penelitiannya. Berkat ketekunannya, lampu, yang sekarang ini terdiri dari beberapa jenis, saat ini sudah bisa kita gunakan di mana-mana. Sekali lagi, penelitian tersebut, butuh waktu lama!

 Nah, bagi teman-teman, terutama para anggota KIR, termasuk adik-adik kelas saya yang masih ingin ‘mengemis’ minta ide, tinggalkanlah! Saya akan mengajak kalian untuk memberikan tipsnya: “Bagaimana sih cara menemukan ide dalam penelitian karya ilmiah?”

Pertama: Dalam menemukan ide dalam penelitian, hendaknya Anda mempelajari pengetahuan dan teori terhadap apa yang diteliti. Misal, saya meneliti tentang jamur. Ternyata, beberapa jenis jamur mengandung racun yang mematikan. Racun tersebut bisa meracuni manusia, hingga menyebabkan kematian.
 Nah, untuk penelitian yang menggunakan bahan tumbuhan maupun hewan, itu mudah. Lain halnya dengan penelitian yang berbau teknologi, ternyata harus dipelajari teorinya secara mendalam, sedetil-detilnya. Karena, kesalahan dalam penelitian teknologi, bisa berpengaruh pada produk yang dihasilkan, lho!